Perbaikan Data
Perbaikan Data khusus anggota
Klik Di Sini

PHRI Tasikmalaya Gandeng Pemerintah, Tak Hanya Urus Bisnis Tapi Juga Peduli Stunting

KOTA TASIK (CM) – Tingkat keterisian kamar hotel di Kota Tasikmalaya mengalami penurunan signifikan selama bulan Ramadan tahun ini. Berdasarkan data dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Tasikmalaya, penurunan tersebut mencapai 45 persen dibandingkan hari-hari biasa. Menariknya, di tengah turunnya okupansi hotel, sektor kuliner justru menunjukkan tren sebaliknya. Minat masyarakat untuk berbuka puasa bersama di restoran maupun hotel melonjak hingga 50 persen. Hal itu diungkapkan langsung oleh Ketua PHRI Kota Tasikmalaya, Hj. Susi Susanti, SE, MM, dalam kegiatan sosial PHRI Berbagi di depan Sekretariat PHRI Kota Tasikmalaya, Kompleks Alun-Alun Dadaha, Cihideung, Rabu 26 Maret 2025. “Memang saat Ramadan, orang cenderung mengurangi bepergian dan jarang menginap di hotel hanya untuk berlibur. Biasanya, tingkat hunian baru akan naik lagi menjelang akhir Ramadan dan saat libur Lebaran. Bahkan, dari data PHRI Jabar, okupansi di Bandung saat ini hanya di angka 23,65 persen,” terang Susi. Fenomena ini, lanjut Susi, terjadi hampir setiap tahun selama bulan suci. Fokus masyarakat yang lebih besar pada aktivitas ibadah serta berkurangnya perjalanan wisata menjadi penyebab utama menurunnya okupansi hotel. Sebaliknya, restoran dan hotel yang menawarkan paket buka puasa bersama justru mengalami peningkatan jumlah pengunjung. Banyak masyarakat yang memilih berbuka puasa di luar rumah bersama keluarga, sahabat, atau rekan kerja. “Untuk paket berbuka puasa, lonjakannya cukup signifikan, bahkan bisa naik 50 persen. Ini sudah jadi tren tahunan, di mana orang lebih memilih suasana nyaman untuk berbuka bersama,” tambah Susi. Baca juga: Gubernur Jabar Larang Study Tour, PHRI DIY Anggap Kebijakan Meresahkan Lebih lanjut, Susi juga menjelaskan bahwa industri hotel dan restoran di Tasikmalaya terus berkembang. Saat ini, tercatat ada 17 hotel berbintang dan 32 hotel non-bintang yang terdaftar sebagai anggota PHRI Kota Tasikmalaya. Jumlah itu belum termasuk hotel dan restoran yang belum bergabung. “Pertumbuhan ini menunjukkan geliat positif sektor pariwisata dan ekonomi daerah. Semakin banyak hotel dan restoran berdiri di Tasikmalaya,” jelasnya. Tak hanya fokus pada bisnis, PHRI Kota Tasikmalaya juga aktif mendukung program pemerintah daerah. Salah satu bentuk sinergi yang terjalin adalah dukungan terhadap program “Bakul Tasikmalaya”, yang konsen pada isu stunting setelah sebelumnya fokus pada penanganan masalah sampah. “Alhamdulillah, sejak November 2023 kami sudah menyalurkan sekitar 18.000 paket bantuan untuk keluarga kurang mampu di Kota Tasikmalaya sebagai bagian dari Program Bakul Tasik,” ujar Susi. Meski menghadapi penurunan okupansi selama Ramadan, Susi optimis kondisi ini akan segera membaik seiring datangnya libur Lebaran. Pergerakan wisatawan yang meningkat saat momen Idulfitri diharapkan mampu mendongkrak kembali tingkat hunian hotel. “Libur Lebaran selalu menjadi momentum terbaik bagi industri perhotelan. Biasanya, okupansi meningkat tajam karena banyak wisatawan dari dalam dan luar daerah yang berkunjung,” pungkasnya. Ramadan tahun ini memang membawa tantangan bagi sektor perhotelan, namun di sisi lain menjadi peluang bagi bisnis kuliner. Lonjakan permintaan untuk berbuka puasa bersama membuktikan bahwa masyarakat lebih memilih momen kebersamaan ketimbang bepergian. Selain itu, kepedulian PHRI dalam aksi sosial seperti pembagian 750 paket takjil dan buka puasa bersama juga menjadi bukti nyata bahwa organisasi ini tak hanya bergerak di bidang usaha, tapi juga berkontribusi bagi masyarakat dan daerah.