Perbaikan Data
Perbaikan Data khusus anggota
Klik Di Sini

Survei PHRI: Efisiensi Anggaran Bikin Keok Industri Perhotelan

Age VerificationThis content is intended for users aged 18 and above. Please verify your age to proceed.Mövenpick Hotel Jakarta City CentreSurvei PHRI menunjukkan efisiensi anggaran pemerintah berdampak serius terhadap industri perhotelan Indonesia.Sentimen pasar relatif positif pada November 2024, namun bergeser menjadi netral pada Desember dan negatif pada Januari 2025.Dampak kebijakan penghematan anggaran pemerintah termasuk fasilitas ruang pertemuan tidak terpakai, keseimbangan segmentasi pasar terganggu, dan kesulitan dalam meningkatkan harga.Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mengungkap survei industri hotel di Indonesia yang dilakukan oleh Horwath HTL. Survei tersebut menunjukkan, selama kebijakan Penghematan Anggaran Pemerintah diberlakukan telah berdampak serius terhadap industri perhotelan Indonesia.Sebagai gambaran, permintaan kamar dari pemerintah di hotel-hotel Indonesia berkisar 5—7 persen dari total bisnis hotel. Sedangkan permintaan terkait MICE (Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions) berkisar 6—21 persen.Angka ini bervariasi tergantung pada karakteristik pasar, hotel positioning, dan lokasi geografis. Dalam survei disebut, ketergantungan pada pengeluaran pemerintah dan permintaan MICE sangat mendominasi dalam segmen hotel bintang 3, 4 dan 5, serta di destinasi pintu masuuk gerbang domestik yang populer.Dari tren historis pada 2018 hingga 2019 menunjukkan bahwa keputusan untuk memangkas anggaran perjalanan dinas tidak hanya memengaruhi akun terkait pemerintah, tetapi juga mengganggu dinamika pasar secara keseluruhan.Hasil survei: Sentimen negatif pada Januari 2025Dari 726 responden pelaku industri perhotelan di 30 provinsi, menunjukkan bahwa sentimen pasar pada November 2024 relatif positif secara year-on-year (YoY). Lebih dari 50 persen responden percaya bahwa kinerja 2024 melampaui tahun sebelumnya.Sentimen ini secara bertahap bergeser menjadi netral pada Desember 2024, dengan sekitar 29 persen responden mengindikasikan bahwa dinamika pasar sedang berubah.“Terutama, destinasi wisata rekreasi populer kemungkinan akan mengurangi dampak negatif dari program penghematan anggaran pemerintah selama musim liburan,” tulis dalam laporan survei, dikutip Rabu (26/3).Sentimen negatif mendominasi pada Januari 2025. Sekitar 83 persen responden merasa mereka tidak berada dalam posisi menguntungkan untuk memulai tahun fiskal baru. Secara rinci, 37 persen merasa pada Januari 2025 kondisinya lebih buruk dari tahun lalu dan 46 persen menilai jauh lebih buruk.Meskipun Januari dikenal sebagai periode peralihan bagi pasar Indonesia, kinerja hotel justru relatif melemah.“Sentimen negatif ini mungkin akan terus berlanjut sepanjang tahun kecuali terjadi perubahan signifikan yang mendorong pergeseran menuju prospek kinerja pasar yang lebih positif,” ungkap dalam survei.Perubahan yang terjadiBerikut poin-poin penting efek kebijakan penghematan anggaran pemerintah yang dipaparkan dalam survei:42 persen fasilitas ruang pertemuan yang tidak terpakai18 persen terganggunya keseimbangan segmentasi pasar15 persen kesulitan dalam rencana meningkatkan harga13 persen berkurangnya permintaan saat hari kerja2 persen penundaan atau pembatalan investasi2 persen pegurangan staf1 persen terganggunya pasokan kebutuhan operasional