Perbaikan Data
Perbaikan Data khusus anggota
Klik Di Sini

Hotel di Toraja Menjerit Karena Efisiensi, PHRI: Hampir Tidak Ada Bookingan

TRIBUNTORAJA.COM, MAKALE - Kebijakan efisiensi dari pemerintah pusat berdampak negatif pada industri pariwisata di Sulawesi Selatan (Sulsel), termasuk Toraja, khususnya perhotelan. Sejak diberlakukannya kebijakan efiseiensi, hotel-hotel di Toraja merana, nyaris tanpa aktivitas. Bagaimana tidak okupansi menurun drastis. Demikian juga kegiatan pertemuan tidak ada lagi, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Toraja, Yohanes Limbong, menyampaikan, kebijakan efisiensi anggaran membuat industri perhotelan dan restoran tercekik. Jumlah pengunjung hotel menurun signifikan.  Sebelumnya, hotel menjadi tempat favorit untuk berbagai kegiatan pemerintah. Namun sekarang kegiatan tersebut sudah dibatasi, baik jumlah kegiatan, apalagi anggarannya. "Efesiensi anggaran sangat berdampak, Hotel biasanya ramai pada musim libur seperti libur Idulfitri, kali ini sepi sekali," ungkap Yohanes kepada Tribun Toraja, Jumat (28/3/2025). Tahun 2024 lalu, kata Yohanes, tingkat hunian rata- rata 90-100 persen. Namun sekarang, bookingan hotel dan juga aktivitas restoran masih di bawah 20 persen.  "Tahun ini hampir tidak ada bookingn, tidak ada lagi yang menggunakan fasilitas ruangan meeting di hotel, restoran atau cafe di Toraja juga minim pengunjung. Nah, usaha kuliner sangat turun," paparnya. Dampaknya, pemilik hotel harus mengistirahatkan sejumlah karyawannya. "Karena kurang akivitas, ya pegawai hotel banyak yang dirumahkan," jelas Yohanes.  "Hotel sepi sejak adanya aturan efesiensi, tidak ada lagi kegiatan pemerintah," tambah Yohanes.  Untuk diketahui, kegiatan meetings, incentives, conventions, and exhibitions (MICE) menjadi salah satu sasaran empuk pemotongan anggaran yang dilakukan pemerintah.  Sementara, kegiatan MICE menjadi salah satu sumber pendapatan terbesar di sektor perhotelan.  Bak efek domino, kebijakan efisiensi ini tidak hanya berdampak terhadap perekonomian daerah, tetapi juga akan menyebabkan masalah sosial.  "UMKM banyak yang gulung tikar, tidak ada lagi yang belanja souvenir,  tidak ada lagi yang menggunakan jasa travel, tidak ada pengunjung ke objek wiasata. Intinya, bisnis pariwisata Toraja sangat memprihatinkan," tutupnya.(*)