BOGOR-KITA.com, BOGOR – Wali Kota Bogor, Dedie Rachim, menyoroti dampak kebijakan efisiensi dan pemotongan biaya perjalanan dinas terhadap industri perhotelan di Kota Bogor. Hal ini disampaikannya menyusul kabar bahwa dua hotel di Kota Bogor telah menghentikan operasionalnya. “Kita harus lebih bijak dalam mengeluarkan langkah-langkah penyampaian kebijakan kepada masyarakat, karena dampak langsungnya adalah rendahnya okupansi hotel di Kota Bogor,” ujar Dedie, Jumat (28/3/2025). Ia menjelaskan bahwa Kota Bogor selama ini menjadi lokasi favorit untuk berbagai kegiatan seperti meeting, bimbingan teknis (bimtek), dan seminar. Namun, dalam dua bulan terakhir, tingkat hunian hotel mengalami penurunan drastis. “Hal itu bisa jadi karena kebijakan efisiensi, pemotongan biaya perjalanan dinas,” katanya. Dedie menegaskan bahwa pihaknya akan mencari solusi terbaik dan meminta pemerintah provinsi serta pemerintah pusat untuk mengevaluasi kebijakan tersebut guna melihat apakah berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat. “Bukan hanya hotel, usaha transportasi, kuliner, restoran, event organizer (EO), hingga master of ceremony (MC) juga terdampak,” ungkapnya. Sebagai langkah awal, Dedie menyebutkan bahwa pemerintah daerah akan menggelar pertemuan dengan para pelaku usaha untuk mendengarkan langsung aspirasi mereka dan mencari solusi yang bisa diterapkan, termasuk kemungkinan pemberian insentif bagi sektor yang terdampak. Sebelumnya, dua hotel ternama di Kota Bogor, Hotel Sahira Paledang dan Hotel Sahira Pakuan, mengumumkan penghentian operasional mereka mulai 29 Maret 2025. Keputusan ini diambil sebagai dampak dari kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang berimbas pada penurunan tingkat hunian hotel. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Bogor, Yuno Abeta Lahay, menyatakan bahwa kondisi ini sebenarnya sudah diprediksi sebelumnya. Menurutnya, hotel beroperasi dengan sistem pendapatan yang berputar, sehingga gangguan pada pemasukan otomatis berdampak pada operasional. “Sejak Januari, dampak dari efisiensi dan pengalihan anggaran program pemerintah sudah mulai terasa. Jika hotel sangat bergantung pada satu segmen pasar, maka ketika terjadi perubahan seperti ini, dampaknya sangat besar. Upaya meningkatkan pasar juga tidak semudah itu,” ujar Yuno, Jumat (28/3/2025). Yuno juga menegaskan bahwa pelaku usaha perhotelan telah berupaya semaksimal mungkin untuk menyelamatkan perusahaan. Dengan penghentian operasional itu, ia berharap manajemen Hotel Sahira tetap memperhatikan hak-hak karyawan, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri. [] Ricky