Perbaikan Data
Perbaikan Data khusus anggota
Klik Di Sini

Masyarakat Nginap di Hotel Saat Libur Lebaran 2025 Anjlok Dibanding 2024, PHRI Ungkap Biang Keroknya

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengusaha hotel pada libur Lebaran 2025 tidak sesenang seperti tahun lalu, seiring merosotnya okupansi atau jumlah keterisian kamar hotel. Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani mengungkapkan, penurunan okupansi libur Lebaran 2025 di kisaran 20 persen jika dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu.  Ia menyebut, anjloknya okupansi terjadi di beberapa daerah tujuan wisata, seperti Yogyakarta, Bali dan Solo. “Saya tadi sempat telepon beberapa daerah Solo, Jogja, Bali memang turun,” tutur Hariyadi dikutip dari Kontan, Rabu (2/3/2025). Baca juga: Pengusaha Pusat Belanja Tak Berharap Banyak saat Libur Lebaran, Daya Beli Masyarakat Lagi Loyo Menurutnya, penurunan okupansi hotel disebabkan daya beli masyarakat masih melemah tahun ini. Pasalnya, masa hunian hotel pada lebaran tahun ini lebih singkat bila dibandingkan tahun lalu. Hariyadi mencatat, rata-rata  waktu tinggal masyarakat di hotel hanya hingga h-2 lebaran saja, atau lebih pendek dan tidak menghabiskan waktu hingga libur selesai pada 7 Maret 2025. “Misalnya di Solo hanya sampai tanggal 4, tanggal 5 langsung check out, di Jogja tanggal 6. Bali turun juga nggak full sampai tanggal 7,” jelasnya. Untuk mengembalikan kondisi okupansi hotel setidaknya ke kondisi yang normal, ia berharap ada peranan pemerintah dalam eksekusi anggaran. Sebab, pasca adanya efisiensi anggaran, konsumsi perhotelan dari pemerintah menurun. Padahal pasar pemerintah untuk industri hotel masih cukup besar yakni mencapai 40%. Menurutnya, peranan pemerintah juga sangat penting agar hotel-hotel tidak banyak yang tutup, dan akhirnya berdampak pada PHK karyawan. “Jadi, kalau pemerintah tidak melakukan eksekusi untuk spending, pasti akan banyak yang tutup lagi (hotel),” ungkapnya. Artikel ini telah tayang di Kontan dengan judul Ketum PHR Sebut Okupansi Hotel Di Libur Lebaran 2025 Turun 20% Imbas Daya Beli Lemah