Perbaikan Data
Perbaikan Data khusus anggota
Klik Di Sini

PHRI Kritik Cara LMK Tagih Royalti: Seperti Preman!

Jakarta: Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) ikut angkat bicara mengenai kisruh royalti musik yang jadi sorotan. PHRI mengkritik cara dan metode penarikan royalti yang dilakukan oleh Lembaga Manajemen Kolektif (LMK).   Ketua PHRI Haryadi B Sukamdani menyebut cara LMK menarik royalti kepada hotel dan restoran terkadang dilakukan secara ugal-ugalan. Dia mencontohkan salah satu tempat usaha milik anggotanya di Lombok yang ditagih royalti oleh LMK untuk penggunaan lagu beberapa tahun silam, bahkan sejak UU Hak Cipta berlaku pada tahun 2014.  Tagihan royalti terhadap hotel dan restoran semakin masif setelah ada sengketa royalti Mie Gacoan dengan LMK Selmi. Kasus itu berakhir damai setelah Mie Gacoan setuju membayar royalti Rp2,2 miliar. Sukamdani pun menyebut cara LMK menagih royalti seperti preman.  "Memang gaya preman. Mereka LMK ataupun LMKN itu menarik mundur, tagihannya itu ditarik mundur sejak UU Hak Cipta berlangsung. Namun, namanya kontrak itu kan harus ada invoice, perjanjian berlaku, itu tidak ada," kata Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Haryadi B Sukamdani di Jakarta.    "Modelnya benar-benar ugal-ugalan. LMK maupun LMKN tidak ada perwakilan di Lombok. Jadi teman-teman anggota PHRI marah, minta dijelaskan. Jangan karena berlindung di balik UU, yang mana UU yang dibuat juga tidak sempurna, ini yang harus diluruskan," lanjutnya.   Sukamdani menegaskan, pihak hotel dan restoran bukannya tidak mau membayar royalti. Namun, dia coba meminta kejelasan tarif dan kepastian royalti yang dibayarkan benar-benar didistribusikan kepada pencipta lagu. Dia juga meminta pemerintah hadir menyelesaikan persoalan ini. Jangan ada kesan lepas tangan.  "Kok kayak lepas semua ke LMKN. Padahal di undang-undang jelas, mereka (negara) mengutip biaya, pencatatan, administrasi masuk ke Kementerian Hukum. Harusnya ada tanggung jawabnya," ujarnya.   Sukamdani pun menyebut sentimen negatif terhadap LMK dan LMKN saat ini semakin tinggi. Terlebih lagi mulai banyak musisi yang secara terbuka mengkritik LMK bahkan menarik diri dari LMK.   "Reaksi negatif masyarakat sangat tinggi. Saya coba perhatikan tidak ada yang berada di pihak LMKN. Yang saya tahu bahkan si pencipta lagunya masih marah-marah. Malah bilang mau menarik diri," ujarnya.     Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News