MALANG POST – Kota Batu bersiap menyambut libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Para pelaku industri perhotelan mulai menyiapkan berbagai strategi agar bisa memaksimalkan kunjungan wisatawan pada momen libur panjang akhir tahun. Meski tingkat reservasi hingga akhir November masih terpantau rendah, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu menegaskan tidak ada kepanikan. Justru mereka optimistis okupansi bisa melejit hingga 90–100 persen saat puncak liburan. Ketua PHRI Kota Batu, Sujud Hariadi menyatakan, bahwa pola pemesanan kamar tahun ini mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Jika pada tahun-tahun sebelumnya reservasi mulai terasa sejak awal November, kini mayoritas wisatawan memilih memesan kamar mendekati tanggal keberangkatan, bahkan tak sedikit yang datang langsung tanpa melakukan reservasi. “Kami tegaskan industri hotel tidak panik. Meskipun reservasi saat ini baru sekitar 20-30 persen, target 90–100 persen saat Nataru tetap realistis karena pola pemesanan wisatawan memang semakin mepet,” tegas Sujud, Senin (1/12/2025). Selain perubahan perilaku wisatawan, tren preferensi menginap juga kian beragam. Wisatawan masa kini cenderung mencari pengalaman unik, sehingga akomodasi berkonsep glamping justru menjadi primadona. Menurut Sujud, okupansi glamping saat ini kemungkinan sudah menyentuh 50 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan hotel konvensional. “Konsep baru selalu menarik dan itu terbukti menjadi magnet wisatawan,” tambahnya. Lebih lanjut, ia juga menyampaikan, menyambut libur Nataru, hampir seluruh hotel di Kota Batu telah meracik program khusus untuk meningkatkan hunian. Mulai dari paket gala dinner, pesta kembang api, hingga menghadirkan hiburan artis regional. Namun, Sujud menyebut tidak semua hotel akan mengadakan pesta besar-besaran seperti tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ekonomi masyarakat yang masih dalam tahap pemulihan membuat sebagian hotel memilih konsep yang lebih sederhana namun tetap menarik. “Ada yang mengadakan gala dinner dan mengundang artis, tetapi tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Sebagian hotel memilih gala dinner sederhana karena daya beli masyarakat harus diperhitungkan,” jelasnya. Meski tengah berhadapan dengan tekanan ekonomi nasional dan persaingan ketat dari destinasi wisata lain, PHRI menilai Kota Batu tetap punya keunggulan yang sulit disaingi. Daya tarik alam yang sejuk, suasana kota yang asri, serta citra sebagai destinasi ramah keluarga dianggap sebagai kekuatan utama yang selalu membuat wisatawan kembali. “Kota Batu memiliki identitas yang tidak tergantikan yaitu sejuk, asri dan ramah keluarga. Itu yang membuat wisatawan selalu ingin kembali,” ujar Sujud. Dengan tren reservasi yang cenderung mendekati hari libur dan daya pikat wisata yang tetap kuat, PHRI Kota Batu optimistis tingkat hunian hotel akan mencapai puncaknya menjelang nataru. (Ananto Wibowo) Baca Juga: