Oleh: Irianto, Ketua PHRI Banyumas EVENT pariwisata olahraga (sport tourism) yang digaungkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah masih menjadi andalan untuk menggerakkan ekonomi daerah. Bukti nyata, di Kabupaten Banyumas, agenda wisata berbasis olahraga ini menjadi angin segar yang secara signifikan meningkatkan okupansi hotel, dan geliat bisnis restoran. Sebut saja ajang Bank Jateng Borobudur Marathon 2025 yang baru-baru ini digelar. Event ini diikuti 11.500 orang peserta dari 38 negara. Ajang tersebut mendapat predikat Elite Label dari World Athletics. Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah atau Sekda Jateng, Sumarno mengatakan, jumlah peserta bertambah 1.000 orang dibandingkan pada 2024 yang mencapai 10.500 orang pelari. Dengan jumlah peserta yang naik, diprediksi perputaran ekonomi bakal meningkat di atas Rp73,9 miliar yang pernah dicapai pada 2024. "Kita ingin mendorong lebih banyak perputaran ekonomi yang ada di kawasan ini," kata Sumarno. Prediksi itu berdasarkan data perputaran ekonomi yang naik pada penyelenggaraannya. Tercatat data perputaran ekonomi Borobudur Marathon 2017 mencapai Rp1,5 miliar. Pada 2018 meningkat Rp26,5 miliar. Kemudian 2019 bertambah menjadi Rp30,5 miliar. Data terakhir pada 2023 Rp61,6 miliar, dan 2024 meningkat menjadi Rp73,9 miliar. Agenda pra-event Borobudur Marathon digelar di sejumlah daerah, termasuk di Purwokerto, Kabupaten Banyumas dengan tajuk Bank Jateng Friendship Run (BJFR) Borobudur Maraton 2025 Purwokerto. Ada 1.000 peserta yang terdata mengikuti Bank Jateng Friendship Run (BJFR) Borobudur Maraton 2025 Purwokerto ini. Pariwisata olahraga (sport tourism) ini bertujuan mendatangkan orang dari luar Jateng masuk ke provinsi ini. Dengan begitu, ekonomi menjadi berkembang. Sport Tourism: Strategi Penggerak Okupansi Event olahraga lokal, mulai dari fun run, forest run hingga sepeda, yang terselenggara di Kabupaten Banyumas, terbukti mampu meningkatkan okupansi hotel sampai 40 persen pada saat penyelenggaraan. Lonjakan ini menciptakan multiplier effect yang signifikan, menggerakkan sektor kuliner, transportasi, dan UMKM. Keberhasilan ini mencerminkan kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah secara konsisten mendukung pengembangan experiential tourism, dan optimalisasi aset daerah. Dengan memfasilitasi dan mempromosikan kegiatan berskala lokal hingga regional, pemerintah provinsi memastikan geliat pariwisata tidak hanya terpusat pada destinasi ikonik. Melainkan tersebar melalui kalender event yang padat dan menarik.