Perbaikan Data
Perbaikan Data khusus anggota
Klik Di Sini

Cok Ace Calon Tunggal Ketua PHRI Bali

DENPASAR, NusaBali.com – Musyawarah Daerah (Musda) XV Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali yang digelar di Prime Plaza Hotel, Sanur, Rabu (3/12/2025), mengerucut pada satu nama calon ketua. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati atau Cok Ace muncul sebagai calon tunggal Ketua PHRI Bali untuk periode kepemimpinan selanjutnya. Apabila disetujui forum Musda, Cok Ace akan mencatatkan sejarah dengan memimpin PHRI Bali selama empat periode atau total 20 tahun. Musda XV ini tidak hanya menjadi agenda pemilihan ketua, tetapi juga dirangkai dengan seminar dan pameran (exhibition) kepariwisataan.Dalam sambutannya, Cok Ace menegaskan kekuatan organisasi tidak hanya diukur dari struktur dan program kerja, tetapi juga dari solidaritas serta kepedulian antaranggotanya. Menurutnya, Musda menjadi momen penting untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja internal PHRI sekaligus kondisi sektor pariwisata Bali.“Kekuatan organisasi bukan hanya terletak pada struktur dan program, tetapi juga pada solidaritas dan kepedulian bersama. Musda harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap kinerja organisasi dan pariwisata Bali,” ujar Cok Ace.Ia menambahkan, apabila kembali dipercaya memimpin PHRI Bali, kepengurusan ke depan diharapkan mampu merumuskan strategi adaptif di tengah dinamika global, tantangan ekonomi, serta isu lingkungan demi menjaga keberlanjutan pariwisata Bali. PHRI, kata dia, memiliki peran strategis sebagai mitra pemerintah dalam menjaga kualitas layanan pariwisata yang berkelanjutan.Namun, Cok Ace mengakui masih terdapat tantangan serius dalam internal organisasi. Dari sekitar 16.000 unit akomodasi yang beroperasi di Bali, tercatat baru sekitar 350 yang menjadi anggota PHRI.“Kondisi ini tentu menyulitkan kami ketika memberikan masukan kepada pemerintah. Data yang disampaikan bisa tidak valid, padahal data yang akurat sangat penting untuk melihat apakah Bali sudah mengalami kelebihan pasokan, atau apakah pangsa pasar masih mencukupi,” jelasnya.Ia juga menyoroti perubahan tren wisatawan yang menuntut peningkatan kualitas destinasi. Di sisi lain, persoalan regulasi tata ruang, kepastian hukum bagi pelaku usaha, persaingan global antardestinasi, serta ancaman bencana alam dan perubahan iklim turut memengaruhi kunjungan wisatawan ke Bali. *mya