Perbaikan Data
Perbaikan Data khusus anggota
Klik Di Sini

Industri Perhotelan Dorong Pemerintah Genjot Belanja Awal 2026

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku usaha perhotelan dan restoran atau PHRI memproyeksikan tantangan industri masih akan berlanjut hingga 2026. Pelaku bisnis perhotelan berharap pemerintah kembali mempertimbangkan peran strategis sektor MICE dan belanja pemerintah bagi industri perhotelan pada 2026 Sekjen Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengkhawatirkan efisiensi anggaran dan pemotongan transfer ke daerah yang berlanjut pada tahun depan akan membatasi aktivitas ekonomi daerah.  Kondisi ini disebut tidak jauh berbeda dengan situasi pada 2025. Meski terjadi peningkatan aktivitas dari kuartal pertama hingga kuartal keempat, tren kinerjanya masih berada di bawah capaian tahun 2024. Kuartal pertama bahkan secara konsisten menjadi periode terendah setiap tahun. Oleh karena itu, PHRI berharap pemerintah mulai mendorong belanja lebih awal pada tahun depan serta memikirkan program alternatif untuk menggantikan pasar pemerintah, termasuk menghidupkan kembali kegiatan Meeting, Incentive, Convention, Exhibition atau MICE. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga perputaran ekonomi di daerah, termasuk bagi sektor perhotelan. "Kami berharap pemerintah mempertimbangkan hal tersebut lagi. Selama ini MICE sangat membantu industri hotel dan pariwisata daerah. Dampaknya besar, bukan hanya untuk hotel, tetapi juga ekonomi kreatif dan UMKM,” ujarnya kepada Bisnis dikutip, Rabu (17/12/2025).Baca JugaHaris Hotel Sentraland Semarang Hadirkan Promo Liburan Akhir TahunJelang Nataru, Reservasi Hotel di DIY Masih di Bawah 50%Libur Nataru, Tingkat Hunian Hotel di Kota Malang Diproyeksikan Capai 80% Maulana mengakui bahwa sepanjang 2025 industri hotel dan restoran belum menunjukkan pemulihan. Secara year-on-year hingga awal Oktober 2025, okupansi industri perhotelan masih tertekan hampir 5% dan bahkan lebih rendah dibandingkan capaian 2022. Penurunan tersebut berdampak signifikan terhadap pendapatan, dengan rata-rata penurunan pendapatan yang disebut mencapai sekitar 60%. Tekanan itu tak lepas dari kebijakan efisiensi dan pengetatan anggaran pemerintah yang berimbas pada minimnya aktivitas perjalanan dinas dan kegiatan pemerintah di daerah. Lebih jauh, industri hotel juga meminta pemerintah memikirkan strategi jangka menengah untuk mengurangi ketergantungan pasar hotel terhadap aktivitas pemerintahan. Mulai dari promosi destinasi, belanja wisatawan, hingga keberlangsungan pelaku ekonomi kreatif di berbagai wilayah. Sasar Segmen Bisnis Meski situasi menantang, pelaku industri menegaskan tetap berupaya bertahan dengan mencari pasar baru. Kelompok Usaha Saraswanti mengatakan tetap akan memperkuat sektor properti perhotelan dengan mengembangkan proyek baru pada tahun depan. CEO Kelompok Usaha Saraswanti Noegroho Hari Hardono mengatakan telah menggandeng Meliá Hotels International sebagai mitra pengelola untuk pengembangan proyek terbarunya di Sentul. Perseroan membidik properti berkonsep resort yang menghadirkan suasana eksklusif dan nyaman dengan dukungan fasilitas lengkap. Menurut Hari, portofolio hotel mewah dan upscale masih mampir memberikan kontribusi ekonomi jangka panjang.  "Pembangunan hotel akan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan wisatawan leisure maupun segmen bisnis dan MICE," katanya. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel