Wisatawan di Desa Wisata Penglipuran. (Ist) Wisatawan di Desa Wisata Penglipuran. (Ist) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) memproyeksikan puncak libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 di Bali terjadi setelah 20 Desember 2025. Tingkat hunian hotel di kawasan-kawasan utama diperkirakan mencapai 75–90%, meningkat dibandingkan periode Nataru 2024 yang tercatat pada kisaran 70–85%. Lonjakan permintaan terlihat dari tren pemesanan kamar yang mulai menguat sejak pekan ketiga Desember, terutama di destinasi berorientasi leisure seperti Kuta, Nusa Dua, Seminyak, dan Ubud. “Peningkatan tahun ini didorong oleh membaiknya konektivitas penerbangan, stabilnya pasar wisatawan domestik, serta pemulihan permintaan dari wisatawan mancanegara, khususnya Australia dan Asia Tenggara,” ujar Ketua PHRI Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, yang akrab disapa Cok Ace. PHRI mencatat wisatawan domestik masih menjadi motor utama. Sementara itu, pasar mancanegara — terutama Australia dan Asia Tenggara — turut menjaga okupansi pada segmen menengah hingga premium. Selain volume kunjungan, kinerja pendapatan hotel juga menunjukkan perbaikan secara tahunan. Average Daily Rate (ADR) selama periode puncak Nataru 2025 diproyeksikan tumbuh 10–20% secara year-on-year (YoY), seiring meningkatnya pricing power pelaku usaha di tengah permintaan yang lebih solid dan pasokan kamar yang relatif terkendali. “Dibandingkan tahun lalu, ruang kenaikan tarif tahun ini lebih sehat, sehingga berkontribusi langsung terhadap pemulihan margin industri,” ujar Cok Ace. Dari sisi perilaku wisatawan, length of stay relatif stabil di kisaran 3–5 malam. Namun, belanja per wisatawan diperkirakan meningkat dibandingkan Nataru 2024. Kontribusi terbesar berasal dari segmen food and beverage (F&B), transportasi, dan aktivitas wisata, yang menjadi penopang utama pendapatan non-kamar (ancillary revenue). PHRI menilai dampak ekonomi Nataru 2025 juga lebih luas dibandingkan tahun sebelumnya, tercermin dari meningkatnya keterlibatan UMKM lokal, operator transportasi, serta penyedia atraksi wisata. Meski demikian, tekanan biaya operasional — terutama energi, logistik, dan tenaga kerja — masih menjadi faktor yang perlu diantisipasi pelaku industri. Secara keseluruhan, PHRI memandang kinerja Nataru 2025 sebagai indikator positif bagi pertumbuhan pariwisata Bali yang berkelanjutan, sekaligus menjadi pijakan awal bagi industri untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan okupansi, kenaikan tarif, dan kualitas layanan memasuki 2026. (*)