Perbaikan Data
Perbaikan Data khusus anggota
Klik Di Sini

Okupansi Hotel Diprediksi Stagnan, PHRI Singgung Dampak Bencana

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) memproyeksikan okupansi hotel pada libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025–2026 tidak setinggi periode tahun lalu. REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) memproyeksikan okupansi hotel pada libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025–2026 tidak setinggi periode tahun lalu. Sekretaris Jenderal PHRI Maulana Yusran mengungkapkan tiga penyebab stagnasi okupansi hotel pada periode Nataru 2025–2026.“Ada tantangan-tantangan yang tidak bisa kita lupakan, yaitu pertama cuaca ekstrem, kedua daya beli masyarakat yang masih rendah,” ujar Maulana saat dihubungi Republika di Jakarta, Selasa (23/12/2025). Maulana mengatakan faktor ketiga adalah kondisi bencana yang terjadi di sejumlah daerah, terutama di tiga provinsi di Sumatera. Ia menyampaikan kerusakan infrastruktur akibat bencana membuat calon wisatawan mengalihkan atau membatalkan perjalanan wisata, termasuk menginap di hotel.“Daerah-daerah yang terkena bencana, aksesnya putus, tentu akan menurun okupansinya,” ucap Maulana. Oleh karena itu, Maulana mengaku tidak terlalu optimistis okupansi hotel dapat melampaui capaian libur Nataru tahun lalu yang berkisar 85 persen hingga 90 persen. Ia memproyeksikan okupansi hotel secara nasional pada libur Nataru 2025–2026 berada di kisaran 80 persen.“Paling tidak tahun ini kita bisa mengambil okupansi di angka 80 persen saja sudah alhamdulillah,” lanjut Maulana.Maulana menyebut ketiga faktor tersebut menjadi tantangan bagi industri perhotelan dalam meningkatkan okupansi saat libur Nataru. Ia berharap stimulus ekonomi dari pemerintah dapat membantu pelaku industri pariwisata mengoptimalkan periode liburan ini.“Intinya ada berbagai kendala dan tantangan, walaupun pemerintah sudah memberikan berbagai stimulus untuk wisatawan,” kata Maulana.