Perbaikan Data
Perbaikan Data khusus anggota
Klik Di Sini

PHRI Targetkan Okupansi Hotel di Atas 80 Persen saat Libur Nataru

Bisnis.com, JAKARTA - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menargetkan tingkat okupansi hotel selama periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) menembus angka di atas 80 persen.  Target tersebut didorong oleh tingginya potensi pergerakan wisatawan, seiring panjangnya masa libur dan berbagai stimulus yang diharapkan mampu mengerek minat masyarakat untuk bepergian. Kementerian Perhubungan mencatat sebanyak 119,5 juta orang berpotensi melakukan perjalanan, baik lintas provinsi maupun di dalam wilayah masing-masing. Lonjakan pergerakan tersebut kerap beriringan dengan meningkatnya aktivitas sektor pariwisata, termasuk perhotelan. Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengatakan jika berbicara mengenai okupansi hotel, kondisinya memang cukup bervariasi. Setiap daerah menunjukkan angka yang berbeda-beda.  Hingga hari ini, daerah yang sudah mulai mengalami lonjakan okupansi antara lain Bandung di Jawa Barat, beberapa wilayah di Jawa Tengah, Jawa Timur, khususnya Batu dan Malang, serta Bali yang juga dilaporkan mengalami peningkatan. Di sisi lain, ada daerah yang okupansinya masih cukup rendah. Misalnya Sulawesi Selatan, khususnya Makassar, yang masih berada di kisaran 30 persen. Sumatera Barat dan Sumatera Utara juga cukup rendah, terutama karena adanya bencana alam. Namun perlu digarisbawahi, kondisi ini masih bersifat dinamis karena periode libur Nataru masih akan berlangsung hingga awal Januari 2026. "Kita kan masih berharap paling tidak pada libur Nataru kali ini, yang masih ada 4 hari-an lah ya yang bisa mendapatkan okupansi tinggi ya. Rata-rata di 80 persen," ungkap Maulana. Maulana menyebutkan ada beberapa alasan yang membuat okupansi hotel saat libur Nataru masih belum merata. Menurutnya, dalam beberapa tahun terakhir ini pola liburan masyarakat semakin bervariasi. Sebagian wisatawan memilih berangkat lebih awal untuk menghindari kepadatan lalu lintas, sementara lainnya justru menunda perjalanan agar bisa menikmati suasana liburan yang lebih terasa. Oleh karena itu, jumlahnya masih dinamis. Selain itu, Maulana menilai tantangan pada tahun ini tidak ringan. Cuaca ekstrem menjadi faktor utama yang kerap menghambat aktivitas wisata, terutama bagi pelancong yang melakukan perjalanan darat maupun mereka yang mengharapkan kenyamanan selama liburan. Kondisi cuaca yang tidak menentu tersebut acap kali memengaruhi keputusan wisatawan. Tak sedikit rencana perjalanan yang akhirnya ditunda, bahkan dibatalkan, akibat situasi cuaca yang kurang mendukung. Selain faktor cuaca, tantangan lain datang dari daya beli masyarakat. Di tengah harga tiket yang masih dianggap kurang terjangkau, masyarakat cenderung lebih selektif dalam mengatur anggaran liburan. Untuk merespons kondisi tersebut, katanya, sebenarnya pemerintah telah mengeluarkan berbagai stimulus, mulai dari pemberian diskon tarif transportasi, potongan harga tiket pesawat, hingga penerapan kebijakan work from home dan work from anywhere pada 29–31 Desember.  Dirinya hanya berharap langkah-langkah ini mampu mendorong mobilitas wisatawan sekaligus menjaga tingkat okupansi selama periode liburan. Dengan demikian, periode emas ini bisa tetap memberikan efek yang baik bagi industri perhotelan.