Ringkasan Berita: Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY mencatat selama periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), tingkat hunian hotel masih berada di kisaran 60–80 persen. Sebaran wisatawan dan okupansi hotel di DIY pun disebut belum merata di seluruh wilayah. Kunjungan masih didominasi wisatawan domestik, untuk wisatawan mancanegara didominasi oleh wisatawan dari Malaysia dan Singapura TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di tengah ramainya perbincangan di media sosial tentang Yogyakarta sebagai destinasi favorit libur akhir tahun, tingkat okupansi hotel di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) belum sepenuhnya mencerminkan euforia tersebut. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY mencatat, selama periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), tingkat hunian hotel masih berada di kisaran 60–80 persen dan belum merata di seluruh wilayah. Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo Eryono, mengatakan lonjakan okupansi memang terjadi pada periode tertentu, khususnya pada 26–29 Desember. Namun, tren tersebut tidak berlangsung konsisten hingga akhir tahun. “Dengan adanya tagline Satu Indonesia ke Jogja, sebenarnya ada dampak positif dan juga negatif. Positifnya, tingkat hunian hotel bisa mencapai 60 sampai 80 persen, terutama di tanggal 26 sampai 29 Desember. Tetapi pada tanggal 30 Desember kemarin justru terjadi penurunan cukup signifikan, rata-rata hanya sekitar 40 persen,” ujar Deddy. Memasuki 31 Desember, tingkat hunian hotel kembali mengalami kenaikan, meski belum signifikan. “Tanggal 31 mulai ada kenaikan lagi, tapi hanya sekitar 10 persen, jadi berada di kisaran 50 persen. Artinya, masih cukup banyak ruang bagi wisatawan untuk datang dan merayakan tahun baru di Yogyakarta,” kata Deddy. Didominasi Wisatawan Domestik Menurut Deddy, hingga saat ini kunjungan wisatawan ke Yogyakarta masih didominasi oleh wisatawan domestik. Letak geografis Yogyakarta yang berada di tengah Pulau Jawa dinilai memudahkan akses wisatawan menggunakan transportasi darat. “Daerah Istimewa Yogyakarta masih didominasi wisatawan domestik karena letaknya di tengah Pulau Jawa. Akses transportasi darat sangat mudah, baik dengan kereta api maupun kendaraan pribadi. Sekarang juga sudah ada akses tol, termasuk dari Prambanan, serta jalur dari arah timur, barat, dan utara,” ujarnya. Sementara itu, wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Yogyakarta masih didominasi oleh wisatawan dari Malaysia dan Singapura. Namun, PHRI DIY juga mencatat adanya tren baru selama periode libur Nataru. “Ada sedikit fenomena baru, yaitu mulai adanya kunjungan wisatawan dari Australia selama periode Nataru ini,” kata Deddy. Baca juga: Hunian Hotel di DIY Capai 80 Persen, Kunjungan Wisatawan Mulai Tersebar Sebaran Belum Merata Meski Yogyakarta terlihat ramai di media sosial, Deddy menegaskan bahwa tingkat okupansi tinggi hanya terkonsentrasi di wilayah tertentu, terutama di kawasan Kota Yogyakarta. “Yang bisa mencapai di atas 90 persen itu hanya hotel atau akomodasi yang berada di sekitar Malioboro atau wilayah tengah kota. Belum bisa merata. Dunia maya sering kali berbeda dengan dunia nyata. Di lapangan, okupansi rata-rata tetap di kisaran 60 sampai 80 persen,” ujarnya.