Perbaikan Data
Perbaikan Data khusus anggota
Klik Di Sini

Wisata ke Kota Batu Ramai, Hotel Tak Ikut Pesta

MALANG POST – Kota Batu kembali dipadati wisatawan di penghujung 2025 dan awal 2026. Destinasi wahana dan objek wisata tampak semarak, arus kendaraan meningkat dan pergerakan pelancong terlihat tinggi di berbagai titik. Namun, di balik ramainya kawasan wisata itu, sektor perhotelan justru tak ikut berpesta. Momentum pergantian Tahun Baru 2026 yang biasanya menjadi masa panen, kali ini terasa hambar bagi pelaku usaha penginapan. Hasil pantauan pengamanan dan lalu lintas menunjukkan geliat wisatawan yang signifikan. Namun, lonjakan itu tidak berbanding lurus dengan tingkat hunian hotel yang justru mengalami penurunan cukup tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Kapolres Batu, AKBP Andi Yudha Pranata mengungkapkan, berdasarkan data serta hasil koordinasi dengan Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), tren wisatawan yang datang ke Kota Batu mengalami pergeseran pola. Pergeseran ini menjadi catatan serius karena berdampak langsung pada okupansi hotel. “Kalau tahun 2024 lalu, okupansi hotel masih bisa di kisaran 60 sampai 70 persen saat libur Natal. Tahun ini turun cukup dalam. Rata-rata hanya 48 sampai 53 persen. Angka 60 persen itu sangat jarang terjadi,” ujar Andi. Menurutnya, tren penurunan tersebut tidak terjadi tanpa sebab. Salah satu faktor utama adalah terjadinya polarisasi tujuan wisata di akhir tahun. Kota Batu harus berbagi pasar dengan destinasi lain yang juga agresif menarik wisatawan, salah satunya Yogyakarta yang menjadi magnet kuat selama libur Nataru. PADAT: Kondisi lalu lintas di Kota Batu saat momen Nataru cukup padat kendaraan wisatawan, namun tak diikuti dengan kenaikan okupansi hotel. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post) Selain itu, membaiknya infrastruktur jalan justru melahirkan fenomena baru, one day system. Wisatawan kini lebih memilih datang pagi dan pulang sore tanpa perlu menginap. Kota Batu menjadi tujuan kunjungan singkat, bukan lagi tempat bermalam. “Banyak yang datang pagi, pulang sore. Kalau memang tidak ‘nutut’, baru mereka pesan kamar dadakan malam itu juga. Puncaknya terjadi di 24–25 Desember, setelah itu fluktuatif dan cenderung turun drastis,” beber Andi. Fenomena tersebut selaras dengan data volume kendaraan yang keluar dari tiga pintu tol utama menuju Kota Batu, yakni Tol Singosari, Pakis dan Madyopuro. Grafik pergerakan kendaraan per jam menunjukkan kemiripan dengan grafik okupansi hotel. Mayoritas wisatawan datang tanpa rencana menginap, sehingga berdampak pada menurunnya angka length of stay. Target lama tinggal 1,14 hari pun diprediksi sulit tercapai. Kondisi ini diperkuat oleh laporan PHRI Kota Batu. Ketua PHRI Kota Batu, Sujud Hariadi menyampaikan, tingkat okupansi hotel pada malam pergantian tahun hanya mencapai sekitar 60 persen. Angka tersebut jauh dari ekspektasi yang sebelumnya diproyeksikan bisa menembus 90 persen. “Reservasi kamar hotel untuk malam tahun baru berada di kisaran 60 persen,” ujar Sujud. Ia mengakui, capaian tersebut menurun dibandingkan malam tahun baru tahun sebelumnya, yang mampu mencatat okupansi hingga 90 persen. Menurunnya daya beli masyarakat disebut menjadi faktor dominan. Selain itu, persaingan antar daerah semakin ketat seiring masifnya pembangunan sektor pariwisata di berbagai kabupaten, kota, bahkan provinsi lain. “Penurunan ini bukan hanya di malam tahun baru saja. Secara keseluruhan, kalau dibandingkan year on year, pendapatan hotel-hotel di Kota Batu turun sampai 30 persen dibandingkan tahun lalu,” imbuhnya. Menurutnya, kondisi ini menjadi alarm bagi sektor pariwisata Kota Batu. Di tengah ramainya kunjungan, tantangan justru terletak pada bagaimana mengubah wisata singkat menjadi wisata menginap. Tanpa strategi baru, Kota Batu berisiko terus ramai di siang hari, tetapi redup ketika malam tiba. (Ananto Wibowo) Baca Juga: