Perbaikan Data
Perbaikan Data khusus anggota
Klik Di Sini

Okupansi Hotel di Kota Batu Turun 20 Persen saat Malam Tahun Baru 2026 karena Beberapa Faktor Ini

Ringkasan Berita: Okupansi hotel di Kota Batu saat malam tahun baru 2025 ke 2026 turun jika dibandingkan dengan tahun lalu PHRI Kota Batu, Sujud Hariadi mengatakan penurunan okupansi atau keterisian kamar mencapai 20 persen dibanding tahun 2024 lalu.  Faktor, mulai daya beli masyarakat yang masih belum membaik, hingga semakin banyaknya pilihan akomodasi selain hotel dinilai jadi penyebab turunnya okupansi hotel SURYAMALANG.COM, BATU - Okupansi hotel di Kota Batu saat malam tahun baru 2025 ke 2026 turun jika dibandingkan dengan momen yang sama tahun sebelumnya. Menurunnya daya beli masyarakat dan semakin banyaknya pilihan wisata di Indonesia dinilai jadi faktor utama yang membuat okupansi hotel di Kota Batu menurun saat malam tahun baru 2026. Baca juga: Disnaker Kota Batu Kirim Surat Ke 100 Perusahaan Terkait Penetapan Kenaikan UMK 2026 Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi mengatakan penurunan okupansi atau keterisian kamar mencapai 20 persen dibanding tahun 2024 lalu.  “Okupansi mencapai 70 persen saja saat malam tahun baru kemarin. Itu untuk rerata okupansi hotel di Batu,” kata Sujud Hariadi kepada Suryamalang.com, Kamis (1/1/2026). Menurut Sujud saat pergantian tahun dari 2024 ke 2025 lalu, jumlah okupansi hotel di Kota Batu sampai menyentuh angka 90 persen. Kondisi ini tidak hanya dialami hotel-hotel di Batu saja, namun hampir menyeluruh di Indonesia. “Penyebabnya banyak faktor, mulai daya beli masyarakat yang masih belum membaik, kemudian daerah lain juga membangun pariwisata mereka, sehingga semakin banyak pilihan lain untuk menghabiskan malam tahun baru,” jelasnya. Tak berhenti di situ, faktor lain yang membuat okupansi hotel di Kota Batu lesu juga dikarenakan semakin banyaknya pilihan akomodasi selain hotel. Seperti vila, homestay dan juga penginapan lainnya. Baca juga: Target 3 Juta Wisatawan Kota Malang Terlampaui, Kayutangan Heritage jadi Magnet Terbesar Sujud juga menilai, kondisi perekonomian yang kini sedang tak baik-baik saja, membuat banyak masyarakat memilih untuk berwisata tanpa menginap. Pola wisatawan yang demikian turut berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan ke Kota Batu. “Kayaknya tingkat kunjungan secara total memang menurun,” ujarnya. Sementara itu wisatawan asal Sidoarjo, Arum Rinjani mengatakan saat libur tahun baru ini ia memilih untuk menginap di rumah teman. Selain untuk menjalin silaturahmi juga lebih menghemat biaya dibanding menginap di hotel. “Ke Batu untuk jalan-jalan saja, menginapnya di rumah teman di Malang. Hemat dan efisien, karena memang ditawarin juga. Daripada untuk menginap di hotel atau vila, saat libur Natal Tahun Baru harganya naik semua,” tutur Arum.(myu)