Bali, Beritasatu.com - Di tengah kabar penurunan pergerakan wisatawan domestik, muncul keluhan wisatawan lokal yang merasa tidak diperlakukan ramah saat berkunjung ke sejumlah destinasi wisata di Bali. Unggahan pengalaman tersebut viral di media sosial dan memicu perdebatan warganet. Keluhan ramai dibahas melalui grup Facebook Bali Island. Salah satunya datang dari akun ayfabrianti, wisatawan asal Kalimantan Tengah, yang membagikan pengalaman saat berkunjung ke kawasan Pantai Tanah Lot, Tabanan. Dalam unggahannya, ia mengaku, mendapat perlakuan yang dinilai diskriminatif saat berniat menyewa payung saat hujan, tetapi ditolak dengan alasan payung tersebut “khusus untuk turis”. Unggahan itu menuai respons luas. Sejumlah komentar menyebut sikap tersebut mencerminkan pelayanan yang tidak ramah terhadap wisatawan nusantara. Bahkan komentar warganet yang menyebut “Bali tidak ramah bagi wisatawan lokal” memperoleh ribuan tanda suka. Selain itu, keluhan lain juga muncul terkait sikap oknum sopir konvensional yang disebut menghujat wisatawan karena memilih transportasi online dengan alasan tarif lebih murah. Perdebatan tersebut memicu kekhawatiran terhadap citra pariwisata Bali, terlebih di tengah narasi kelesuan kunjungan wisatawan domestik. Pelaku usaha mengakui sektor ini tengah menghadapi tantangan akibat penurunan pergerakan wisatawan lokal. Pengamat menilai, jika praktik pelayanan yang terkesan membeda-bedakan wisatawan terus terjadi, kondisi pariwisata Bali berpotensi semakin tertekan. Ketua PHRI Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) menjelaskan, bahwa kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali saat ini masih menunjukkan tren positif. “Pergerakan wisatawan internasional meningkat empat hingga enam persen, baik dari jumlah penumpang maupun kedatangan,” ujar Cok Ace kepada wartawan, Jumat (2/1/2026). Namun, ia mengakui terjadi penurunan rata-rata sekitar 10 persen pada pergerakan wisatawan domestik, dipengaruhi antara lain oleh bencana alam di sejumlah daerah asal wisatawan serta berkembangnya destinasi alternatif di luar Bali. Menanggapi keluhan wisatawan lokal, Cok Ace menegaskan PHRI Bali tidak pernah mendorong sikap diskriminatif dalam pelayanan pariwisata. Ia menyampaikan apresiasi tinggi kepada wisatawan nusantara yang berperan besar menopang pariwisata Bali saat pandemi. “Jika ada satu atau dua kasus pelayanan kurang baik, maka kami mohon maaf. Itu bersifat insidental dan tidak mencerminkan kondisi keseluruhan,” ujarnya. PHRI Bali memastikan terus mengingatkan pelaku usaha hotel dan restoran agar memberikan pelayanan setara kepada seluruh wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Cok Ace berharap diskusi di media sosial disikapi secara proporsional. “Bali tetap terbuka dan menghargai semua wisatawan yang datang. Kami berkomitmen memberikan pelayanan terbaik tanpa diskriminasi,” tutupnya. Pariwisata BaliBaliPHRI BaliBali Tak Ramah Wisatawan Domestik