TABANAN, Kilasbali.com – Praktisi pariwisata sekaligus Ketua PHRI Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati atau Cok Ace, mendorong pemerintah daerah (pemda) di seluruh Bali untuk mengevaluasi kondisi pariwisata sepanjang 2025. Ia menilai langkah ini perlu dilakukan menyusul terjadinya pergeseran minat objek wisata dan merosotnya angka kunjungan wisatawan. Khususnya, wisatawan domestik yang terjadi secara signifikan. Cok Ace menekankan bahwa evaluasi tersebut harus mencakup sektor akomodasi maupun destinasi wisata sebagai bahan persiapan untuk mempromosikan pariwisata Bali di 2026. Ia melihat saat ini persaingan antarwilayah semakin sengit, baik di internal Bali sendiri maupun kompetisi dengan daerah luar. Daerah luar yang ia maksudkan antara lain Banyuwangi di Provinsi Jawa Timur, pulau Lombok di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), atau Labuan Bajo di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). “Fenomena yang terjadi pada aktivitas pariwisata di Bali sepanjang 2025 ini perlu dievaluasi untuk 2026 dan ke depannya,” tegas Cok Ace pada Minggu (4/1). Mantan Wakil Gubernur Bali ini menyoroti data penurunan wisatawan domestik yang mencapai 42 persen jika dihitung dari perbandingan Desember 2024 dengan Desember 2025. Sekitar 34 persen dari angka tersebut merupakan wisatawan jalur darat, seperti rombongan siswa atau pengguna kendaraan pribadi, yang kini mulai menghilang ke daerah lain. Faktor cuaca ekstrem, gelombang laut yang tinggi, serta mahalnya harga tiket perjalanan diduga menjadi pemicu utama masyarakat mengurungkan niat berwisata ke Bali. Di sisi lain, peningkatan infrastruktur tol di Jawa Timur hingga Probolinggo dan Banyuwangi membuat daerah tetangga menjadi pilihan yang lebih mudah dijangkau bagi pelancong. Cok Ace juga memperingatkan agar Bali tidak sekadar menjadi tempat transit bagi wisatawan mancanegara yang hendak menyeberang ke kepulauan Gili di Lombok. “Jangan-jangan nanti di Bali hanya datang dan tercatat di Bandara Ngurah Rai pada hari pertama, kemudian di hari kedua mereka sudah pindah ke Lombok. Bali harus gerak cepat juga,” ujarnya mengingatkan tantangan kompetisi antarprovinsi ini. Secara internal, ia meminta setiap kabupaten/kota di Bali untuk lebih jeli merawat destinasi wisata mereka agar tidak kalah bersaing. Ia mengambil contoh Kota Denpasar yang kini melakukan perbaikan besar-besaran di kawasan Sanur setelah kehadiran Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan dan dermaga baru. Menurutnya, pemerintah daerah wajib mendampingi masyarakat dalam menonjolkan keunikan destinasi di wilayah masing-masing. “Jangan dilepas, karena masyarakat tidak semuanya paham mengenai potensi wisata di wilayahnya,” imbuhnya. Meskipun kunjungan domestik melemah, pariwisata Bali di tahun 2025 masih tertolong oleh stabilitas segmen wisatawan asing asal India dan Tiongkok. Wisatawan India tercatat sangat spesifik meminati objek wisata Tirta Gangga di Karangasem karena adanya narasi kedekatan dengan Sungai Gangga di negara mereka. Selain itu, informasi di media sosial juga membantu penyebaran wisatawan ke titik-titik baru seperti Desa Pemuteran di Jembrana dan Candidasa di Karangasem. Hal ini juga tercermin dari tingkat okupansi hotel di Bali pada Desember 2025 yang masih mengalami kenaikan sekitar enam persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024 lalu. Tren kunjungan ke objek-objek wisata di Bali tersebut bukan sekadar isapan jempol belaka. Ini tercermin dari data manajemen tiga objek wisata utama di Tabanan seperti Tanah Lot, Ulundanu Beratan, dan Jatiluwih sepanjang 2025. Objek wisata ikonik Tanah Lot di Kecamatan Kediri mencatatkan penurunan dari sekitar 1,7 juta orang pada 2024 lalu menjadi 1,4 juta orang pada 2025. Kondisi serupa menimpa Ulun Danu Beratan yang mengalami penyusutan kunjungan dari 600.621 orang pada 2024 menjadi 506.908 orang pada 2025. Sementara itu, Jatiluwih tercatat sebagai destinasi paling tangguh dengan tingkat penurunan terendah yakni 421.967 orang pada 2024 menjadi 388.872 orang pada 2025. Baik Tanah Lot, Ulundanu Beratan, maupun Jatiluwih sama-sama mengalami penurunan yang cukup mencolok pada segmen wisatawan domestik. (c/kb)